please be wise, don't like don't read

<aside> 📌

psycho-pass!au , ooc , typo(s) , mention drugs , violence , harsh words , broken english , slut shamming , 3,5 k+ words

</aside>


gema ketukan sepatu yang beradu dengan marmer yang menutupi permukaan lantai gedung empat puluh lantai yang menjulang gagah di pusat kota seoul itu memecah kesunyian yang ada. terlihat sesosok puan dengan balutan pakaian resmi dengan rambut yang ditata sedemikian rupa, membuat wajah tegasnya semakin terlihat sempurna. beberapa berkas yang ia bawa terdekap erat dalam belitan lengan. sosok itu menatap tajam ke arah setiap ruangan yang terlihat berkat kaca tembus pandang yang berfungsi sebagai pembatas antar ruangan.

“nona lee!”

sapaan salah seorang petugas dengan balutan jas formal berwarna gelap sedikitnya membuat ekspresi keras sosok tersebut kian mengendur. deheman kecil ia dengungkan, dengan mata tajam miliknya yang saat ini terarah lurus tepat ke iras rupawan yang menyapanya. “oh, apakah ketua woo yang mengutus mu, penegak park?”

penegak parkㅡyang tak lain dan tak bukan adalah park sunghoㅡmengangguk kecil, mengiyakan secara tidak langsung apa yang nona lee tanyakan. karena memang pada dasarnya ia diutus oleh salah satu pimpinan tertinggi departemen investigasi kriminal untuk menjemput tamu mereka kali ini; nona leeㅡlee siyeon¹)ㅡsebagai salah satu anggota kementerian kesejahteraan sosial sebagai bagian analisis data kependudukan dan pengamanan imigran. “apakah ada kendala selama anda dalam perjalanan menuju kemari?”

sosok itu menggelengkan kepalanya ringan, menepuk pelan bagian sampul berkas yang begitu tebal. raut keras dan sorot tajam itu perlahan terkikis ketika empunya iras sedikit menyunggingkan senyum tipis. “tidak juga, penegak park.“ ia memperhatikan tatanan gedung melalui ekor matanya yang begitu tajam itu, “justru aku mendapat pengalaman luar biasa ketika baru memulai apa yang ketua mu pinta.”

sungho meringis mendengarnya. sedikit banyaknya ia bisa menebak apa yang nona lee sampaikan. benar, pasti justru petinggi lainnya yang sempat jaehyun dan ketua woo ancam belum lama ini berbuat onar. dan permintaan berkas penyidikan pada salah satu kementerian yang masih menaungi mereka bersama-sama justru secara tidak langsung mengancam posisi sang atasan yang saat ini goyah. “ah, direktur han ... ”

lee siyeon mengangguk kecil. memberi isyarat agar sungho bisa mempercepat laju tungkai bawahnya. kegelisahan begitu terlihat jelas dari getar kelopak matanya. “apakah analis jeon ada di ruangannya?”

“profesor seminggu ini tak pernah beranjak dari ruang kontrol.” sungho menyelipkan beberapa helai rambut gelapnya di belakang telinganya sendiri. “dan sepertinya yang anda bawa saat ini ada kaitannya dengan apa yang sedang beliau coba selesaikan sesegera mungkin.”